Karya: Umi dan Zaina (Kelas IX MTs Darul Falah)

Gugusan awan pekat mentupi pancaran mentari. Suasana cakrawala yang mestinya terang, kini segelap malam. Di atas sana, angin menderu kencang, saling berkelindan menghasilkan cambukan-cambukan kilat. Kemudian beriring dengan dentuman geledek dahsyat.

Dhuarrr! Dhuarrr! Bummm!

Hujan membasahi bumi Jayakarta. Semakin lama air pun mulai naik dan masuk ke pemukiman masyarakat. Pemandangan tersebut sudah biasa terjadi saat musim hujan seperti ini. Sementara itu, Upi, seorang pria bertubuh kekar, menuju goa yang menjadi istananya. Tempat tersebut tak luput oleh genangan banjir. Goa yang berada di bawah Tugu Monasque itu disebut Baitul Sholihin.

Ia menggelar sajadah terbang, sambil memikirkan suasana Jayakarta yang begitu berantakan. Dalam dadanya berkecamuk pikiran,

 “Seandainya aku bisa mendapatkan sapu jagat mungkin musibah seperti ini tidak akan terjadi.”

Upi kembali bersedih. Ia mengeluhkan keadaan ini untuk kesekian kali.

“Maafkan aku Wahai Penduduk Jayakarta. Seandainya aku pulang membawa sapu jagat itu, maka tidak akan terjadi seperti ini kepada kalian.”

….

Suatu hari, Upi bertanya kepada ayahnya,

“Ayah, jika aku pergi mengelilingi dunia untuk mencapai pengalaman dan melihat keindahan semesta raya, apakah engkau bolehkan?”

Ayah Upi termenung sambil menggaruk kepala yang tidak gatal dan menatap Topan. Lalu Upid pun berucap,

“Ya, Peri kecilku. Ayah tidak melarang. Gapailah masa depanmu.”

Disusul dengan wajah girang Upi. Tak berselang lama, Upid membuka sebuah peti yang berisi segulung kertas. Ia membuka kertas tersebut.

“Inilah bentu sapu jagad, Putriku,” ungkap Ayah.

“Bawalah pulang sapu jagad ini. Ayah ingin menyapu segala keburukan dan kotoran di seluruh negeri.”

Dengan hati yang yakin, sambil meraih segulung kertas, Upi tegas mengucap,

“Baik, Yah aku akan berusaha mendapatkan sapu jagad.”

“Berhati-hatilah, Nak. Doa ayah akan selalu mengiringi,” pesan Ayah sebelum Upi pergi.

Dengan berat hati, ia melepas anak semata wayangnya. Sejak saat itu perjalanan Upi pun dimulai. Ia melesat cepat menembus awan Jayakarta dan menuju ke Jawa Tengah tempat Candi Borobudur berada. Tiada puas di sana, ia melakukan penyisiran ke Negara-negara tetangga. Bahkan kini ia telah sampai di Makkah, sesuai dengan instruksi seorang China. Akhirnya Upi membawa pulang sapu jagad yang disampaikan oleh seorang Syeikh.

“Sungguh luar biasa, Ayah. Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina adzabannar.”

_________________________________________________________________________________

(Teman-teman, tulisan di atas adalah cuplikan dari cerpen yang Insyaallah akan dibukukan. Oleh karena itu, untuk membaca versi lengkapnya, tunggu buku kami terbit, ya…)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Open chat