Mengingat bahwa masalah lingkungan perlu disikapi secara serius dan secepatnya, gagasan mengenai pendidikan Ecological Literacy perlu diwujudkan dalam program-program peduli lingkungan. Ecological Literacy adalah kemampuan yang didukung oleh kognitif dan dilengkapi perilaku empati kepada semua bentuk kehidupan. Selain itu, Ecological Literacy bersifat kolektif, perlu tindakan bersama  untuk menghasilkan dampak positif bagi kelangsungan ekologi. Program yang sejalan dengan hal tersebut misalnya, program daur ulang dan program kelompok pengelolaan kebersihan lingkungan sekolah. Untuk menyukseskan program ini hendaklah ada kesadaran bahwa kepedulian lingkungan adalah tanggung jawab kolektif, baik sesama guru maupun siswa.

Apakah yang dimaksud dengan Ecological Literacy? Kata ekologi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2002: 286) adalah “Ilmu tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan (kondisi) alam sekitarnya (lingkungannya)”. Ekologi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu oikos yang berarti rumah atau tempat tinggal, dan logos yang berarti ilmu. (Syamsuri et al., 2004: 93; Pratomo & Barlia, 2006: 13). Lingkungan adalah “…segala apa saja (benda, kondisi, situasi) yang ada di sekeliling makhluk hidup, yang berpengaruh terhadap kehidupan makhluk hidup yang bersangkutan…” (Sumaatmadja, 2003: 80).

Lingkungan memiliki komponen biotik dan abiotik. Komponen biotik terdiri atas tumbuhan, hewan, manusia, dan mikroorganisme. Komponen abiotik terdiri atas air, udara (oksigen, nitrogen, karbondioksida, dan lain-lain), kelembaban, tanah, mineral, cahaya, suhu, salinitas, dan topografi. Kedua komponen ini mengalami interaksi. Interaksi yang terjadi antar-individu sejenis disebut populasi. Interaksi antar-populasi membentuk komunitas. Interaksi komunitas dengan lingkungan abiotik memunculkan suatu sistem yang disebut ekosistem. Interaksi tersebut dapat berbentuk: a) simbiosis mutualisme, hubungan saling menguntungkan; b) simbiosis parasitisme, merugikan salah satu pihak; c) simbiosis komensalisme, menguntungkan satu pihak dan tidak berpengaruh pada pihak lain; d) predatorisme,
hubungan saling memangsa; e) netralisme, hubungan yang tidak saling mempengaruhi; f) kompetisi, perebutan suatu sumber makanan oleh berbagai organisme. Ekosistem-ekosistem berinteraksi menjadi satu kesatuan yang disebut biosfer atau ekosfer (Syamsuri et al., 2004: 93-107).

Pentingnya pelestarian lingkungan terkadang sering dilupakan oleh sebagian
manusia mengakibatkan kurang terpeliharanya lingkungan tersebut. Jika keadaan ini terus dibiarkan dikhawatirkan keadaan tersebut akan semakin parah. Pemahaman yang rendah akan pentingnya menjaga lingkungan sekitar dapat berakibat pada kerusakan lingkungan, sebagaimana yang digambarkan oleh Capra (2002: 11-12) dalam Lisbet (2013:140) bahwa seiring dengan berakhirnya abad ke 20, masalah Iingkungan menjadi hal yang utama. Kita dihadapkan pada serangkaian masalah-masalah global yang membahayakan biosfer dan kehidupan manusia dalam bentuk-bentuk yang sangat mengejutkan yang dalam waktu dekat akan segera menjadi tak dapat dikembangkan lagi (irreversible). Oleh sebab itu, manusia memberikan andil besar bagi kelangsungan kehidupan makhluk hidup di muka bumi ini.  Perlu adanya suatu tindakan untuk mengembalikan keadaan alam menjadi lebih baik lagi.

Brown (dalam Capra, 2002: 13) mengungkapkan jangan sampai manusia terlalu memanfaatkan kekayaan alam secara berlebihan. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi kehidupan yang akan datang. Di sinilah letak pentingnya suatu kecerdasan ekoliterasi untuk disampaikan dalam pembelajaran di sekolah. Jika kecerdasan ekoliterasi ini dipupuk sejak dini, diharapkan dapat menjadi solusi atas beragam masalah ekologi yang ditimbulkan oleh peradaban yang kurang memperhatikan keberlangsungan alam dan lingkungan. Selain itu, kecerdasan ekoliterasi merupakan tanggung jawab kolektif, sehingga membutuhkan suatu keterampilan sosial yang dapat memperkuat kecerdasan ekoliterasi ini menjadi lebih konkrit dalam tindakan nyata di dalam kehidupan sehari hari.

Beberapa cara pembelajaran berdasarkan pendekatan lingkungan sebagai berikut.

  1. Membawa peserta didik ke suatu lingkungan untuk kepentingan pembelajaran.
  2. Membawa sumber-sumber dari lingkungan (alam atau masyarakat) ke sekolah (kelas) untuk kepentingan pembelajaran.
  3. Memanfaatkan lingkungan sebagai media pembelajaran.

Beberapa keuntungan memanfaatkan lingkungan sebagai media pembelajaran antara lain: menghemat biaya karena memanfaatkan benda-benda yang telah ada di lingkungan; memberikan pengalaman yang riil kepada siswa, pelajaran menjadi lebih konkrit, tidak verbalistik. benda-benda yang berasal dari lingkungan dipilih sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan siswa. Hal ini juga sesuai dengan konsep pembelajaran kontekstual (contextual learning). Di samping itu, ada beberapa kekurangan atau kelemahan yang sering terjadi dalam pelaksanaan pembelajaran di dalam lingkungan. Yaitu, berkisar pada teknis pengaturan waktu dan kegiatan belajar. Kegiatan yang dipersiapkan secara matang dan dengan daya kooperatif peserta didik, dapat menghasilkan pembelajaran yang benar-benar bermakna. Dengan demikian, tujuan pembelajaran untuk mengembangan Ecological Literacy hendaknya diwujudkan dengan teknis yang jelas bagi individu maupun kelompok belajar.

Penulis: Nila Ayati Nuzula, Dewan Guru MTs Darul Falah Bendiljati Kulon

One thought on “Pepeling (Peduli Pelestarian Lingkungan) Sebagai Upaya Pengembangan Ecological Literacy Siswa”
  1. Ayah memanjat pohon mengkudu
    Ibu membuat nya menjadi jamu
    Aku suka membaca buku
    Karena itu aku dapat ilmu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Open chat